Di Indonesia banyak petani masih menggantungkan pupuk anorganik (pupuk kimia)
untuk tanaman mereka. Pupuk anorganik memang dapat meningkatkan hasil
panen secara cepat. Namun disamping harganya mahal, apabila sering
menggunakan pupuk ini, tanah akan menjadi keras, miskin akan hara dan
tanah tidak dapat menghisap air.
Jadi bila digenangi air, tidak
dapat meresap kedalam tanah, sehingga akar tanaman sulit menyerap hara.
Ini akan mengganggu pertumbuhannya. Tanaman menjadi kerdil demikian pula
hasil panennya akan merosot.
Kondisi ini menjadi pertanyaan kita pupuk kimia yang digunakan untuk pertanian pada dasarnya sahabat atau musuh tanah?
Untuk dapat ditanami kembali, tanah
harus menggunakan pupuk kimia yang semakin hari semakin meningkat
kebutuhannya. Tanah yang sering diberi pupuk kimia lambat laun akan
menjadi asam. Untuk memperbaikinya diperlukan pengapuran, sehingga
memerlukan tambahan biaya.
Sekarang sudah banyak para petani yang
sadar untuk kembali menggunakan cara alami, yaitu menggunakan pupuk
organik untuk memupuk tanamannya. Salah satunya adalah kascing.
Struktur tanah yang telah rusak yang diakibatkan oleh penggunaan pupuk
anoganik dapat dikembalikan secara perlahan-lahan dengan kascing.
Kascing mengandung hampir semua unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman.
Juga bersifat hidrokopis, mengakibatkan tanah disekitarnya menjadi
lembab dan gembur, menghidupkan mikro organisme yang berguna bagi
tanaman, sehingga tanaman menjadi subur.
Kascing mempunyai kelebihan
yang tidak dimiliki oleh pupuk anorganik (kimia) yaitu : dapat
memperbaiki struktur tanah, baik struktur biologi, kimiawi serta
fisikanya. Kascing dapat menambah kandungan humus atau bahan organik,
ini disebabkan C/N nya rendah. Kascing dapat memperbaiki jasad renik
tanah, dan dapat menambah usur hara makanan yang dibutuhkan tanaman.
Pupuk Organik Super
Jumat, 15 Agustus 2014
Senin, 21 Juli 2014
Kascing Bukan Pupuk Kompos Biasa
Sampah organik yang dihasilkan oleh aktifitas masyarakat dapat diolah menjadi pupuk kompos. berbagai macam cara dapat dilakukan untuk mengolah sampah organik menjadi kompos.
Anggaran Sampah 1,3 Triliun
Masalah sampah di sebagian besar kota di Indonesia masih menjadi masalah pelik yang sepertinya sulit sekali dipecahkan. Kota Bandung yang dikenal dengan kota kembang pernah mengalami krisis sampah saat sampah yang tidak terangkut ditumpuk ditepi jalan. salah satu kendalanya adalah fasilitas TPA (Tempat Pembuangan Akhir) yang terbatas.
Bahkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta masih kewalahan menangani sampah Ibu Kota. Manajemen pengangkutan dan pengolahan sampah belum terbangun dengan baik. Pada saat bersamaan, produksi sampah belum bisa ditekan sehingga sampah berserakan di ruang-ruang publik.Untuk mengatasi masalah itu, Pemprov DKI mengalokasikan anggaran Rp 1,3 triliun untuk dinas kebersihan. Sebagian besar dana itu dipakai untuk pengangkutan dan pengelolaan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat. Namun, tetap saja persoalan sampah di Jakarta tidak tertangani maksimal.
Bisa dibayangkan berapa besar anggaran pemerintah dihabiskan tiap tahun hanya untuk mengatasi masalah sampah. Dari masalah sampah adakah solusi yang dapat merubah anggaran yang sedemikian besar menjadi lebih bermanfaat bahkan dapat menghasilkan pendapatan.
Pertama kita bedakan dulu sampah berdasarkan sifatnya
Pemanfaatan sampah dapat dilakukan yaitu
Sampah organik dapat diolah lebih lanjut menjadi kompos dan sampah anorganik dapat dijadikan sampah komersil atau sampah yang laku dijual untuk dijadikan produk laiannya. Beberapa sampah anorganik yang dapat dijual adalah plastik wadah pembungkus makanan, botol dan gelas bekas minuman, kaleng, kaca, dan kertas, baik kertas koran, HVS, maupun karton.
Bahkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta masih kewalahan menangani sampah Ibu Kota. Manajemen pengangkutan dan pengolahan sampah belum terbangun dengan baik. Pada saat bersamaan, produksi sampah belum bisa ditekan sehingga sampah berserakan di ruang-ruang publik.Untuk mengatasi masalah itu, Pemprov DKI mengalokasikan anggaran Rp 1,3 triliun untuk dinas kebersihan. Sebagian besar dana itu dipakai untuk pengangkutan dan pengelolaan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat. Namun, tetap saja persoalan sampah di Jakarta tidak tertangani maksimal.
Bisa dibayangkan berapa besar anggaran pemerintah dihabiskan tiap tahun hanya untuk mengatasi masalah sampah. Dari masalah sampah adakah solusi yang dapat merubah anggaran yang sedemikian besar menjadi lebih bermanfaat bahkan dapat menghasilkan pendapatan.
Pertama kita bedakan dulu sampah berdasarkan sifatnya
- Sampah organik - dapat diurai (degradable)
- Sampah anorganik - tidak terurai (undegradable)
Pemanfaatan sampah dapat dilakukan yaitu
Sampah organik dapat diolah lebih lanjut menjadi kompos dan sampah anorganik dapat dijadikan sampah komersil atau sampah yang laku dijual untuk dijadikan produk laiannya. Beberapa sampah anorganik yang dapat dijual adalah plastik wadah pembungkus makanan, botol dan gelas bekas minuman, kaleng, kaca, dan kertas, baik kertas koran, HVS, maupun karton.
Langganan:
Komentar (Atom)